APAKAH ANDA DEPRESI?

12/3/2007 14:35 WIB

Nurvita Indarini – detikcom

Sepintas lalu sulit mengenali orang yang sedang mengalami depresi. Orang yang berpakaian rapi dan wangi bisa juga depresi. Apakah Anda depresi?

Meski sepintas lalu sulit dikenali, namun menurut Guru Besar Psikiatri Fakultas Kedokteran UI Profesor Dr Sasanto Wibisono, ada beberapa gejala yang mencirikan orang mengalami depresi.

“Ada tiga gejala utama, tapi bila dua saja sudah dipenuhi, maka bisa jadi orang tersebut mengalami depresi.” ujar Sasanto dalam media edukasi paradigma baru pengobatan depresi di Hotel Gran Melia Kuningan, Jakarta, Rabu (14/3/2007).

Gejala Utama itu adalah murung dan sedih, hilang minat atau gairah, dan merasa lemas tak bertenaga.

Sedangkan gejala lainnya adalah konsentrasi yang turun, munculnya rasa tak berguna dan bersalah, gangguan pola tidur, gangguan pola makan, memiliki rasa putus asa dan yang parah… berpikiran untuk bunuh diri.

“Gangguan pola tidur itu tidak selalu susah tidur, tapi bisa juga tidur berlebihan. sedangkan gangguan pola makan bisa saja tidak doyan makan atau malah makan banyak. Ada beberapa orang yang kalau tertekan justru banyak ngemil. Gejala ini bisa berlangsung lebih dari dua minggu.” imbuh pria beruban ini.

Bahaya yang mengintip dari gejala ini, aktivitas tentu terganggu dan tak menentu.

Hati-hatilah bisa Anda berasal dari keluarga yang memiliki riwayat depresi. Sebab ternyata gangguan kejiwaan ini berpotensi menurun secara genetik. “Penyebab utama depresi paling potensial ditularkan secara genetik, ” cetus Dr. Santo.

Pengobatan untuk pesien depresi dapat dilakukan dengan beberapa terapi pengobatan psikoterapi, terapi electro (ECT), dan yang jelas dengan dukungan keluarga,” ujar Guru Besar Psikiatri Fakultas Kedokteran UI Profesor Dr Sasanto Wibisono.

Tujuan terapi adalah meningkatkan kualitas hidup, mengurangi atau menghilangkan gejala, dan mengurangi risiko kekambuhan dan risiko disabilitas atau moralitas.

Depresi berisiko kambuh manakala pesien tidak patuh akibat stres pribadi, ketidaktahuan, pengaruh tradisi yang tidak percaya dokter, dan tidak nyaman dengan efek samping obat. Selain itu kekambuhan juga dipengaruhi faktor lingkungan yang tidak mendukung.

Metode Electro Convulsive Theraphy atau ECT yang paling efektik dan efek samping kecil. ECT adalah terapi dengan melewatkan arus listrik ke otak. Terapi ini memang disebut-sebut aman, tidak sakit, dan efektif. Metode semacam ini biasanya sering digunakan pada kasus depresi berat.

Ngeri bak disetrum? “Memang ini seperti penyetruman. Tapi aman kok. Biasanya dilakukan 4-6 kali. bisa juga dengan kombinasi ECT dan obat. Dengan pengobatan depresi maka imunitas seseorang juga meningkat.” terang Santo.

Menurut Direktur Pengawasan NAPZA dan BPOM dr Danardi Sosrosumihardjo, perkembangan obat antidepresan sudah sangat maju. Kini ada 38 brand name obat untuk terapi depresi.

“Pada saat stres, yang bisa memicu depresi, dimungkinkan zat penghantar saraf yang munbgkin tidak ballance, ” kata Danardi.

menurutnya ada kalanya pasien depresi diberi placebo. Placebo adalah kapsul kosong yang hanya berisi tepung dan gula. “Ternyata pemberian placebo bisa mencegah 53% depresi menjadi parah, ” kata pria berkacamata ini.

Untuk penderita depresi, konseling yang berkelanjutan harus dilakukan. Dan yang paing penting adalah dukunagn keluarga dan lingkungan, sehingga membuat penderita merasa nyaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: